| Api Bukan Berasal dari Warung Makan Saya |
|
|
|
"Kebakaran, kebakaran, tolong, tolong, ada api, ada api." Teriak Marsandi pemilik warung makan yang beralamat di Blok A No 17 RT 05 RW 04 Bengkong Baru Batam, Senin (7/3) pukul 9.40 WIB. Tetangga yang berada disekitar rumah langsung berhamburan keluar. Mereka segera mengambil air dan berusaha menyiram apinya.
Malang, hembusan angin yang kencang justru membuat api semakin membesar. Kepulan asap hitam terus membumbung ke udara. Api setinggi hampir lima meter terus mengoyak rumah-rumah disekitar lokasi. Warga terus berusaha membawa selang dan ember untuk memadamkan api yang memiliki diameter sekitar empat meter itu. Suasana terasa sangat mencekam ketika api menyapu delapan rumah dipemukiman yang sangat padat penduduknya. Dari titik api yang berkobar-kobar itu, panasnya bisa dirasakan warga dari jarak enam meter. Ibu-ibu yang berada dilokasi pun tunggang-langgang sambil beteriak histeris dan meminta tolong kepada warga yang berada dilokasi. "Terus, semprot terus itu dindingnya, jangan sampai merembet apinya. Pemadam kebakaran sudah ditelepon belum, sudah datang belum," ujar Bambang, warga setempat yang turut memadamkan api. Sementara pemilik warung makan nasi, Marsandi, istrinya Sri Rahayu, dan saudaranya, Slamet Riyadi langsung keluar dari warungnya. Mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang seperti kulkas, kipas angin, televisi, dan beberapa barang berharga lainnya. Mereka keluar dari dalam warung dan segera meminta pertolongan kepada warga sekitar. Menurut Marsandi, saat kejadian kebakaran hebat, Slamet Riyadi sedang memasak. Sementara Marsandi bersama istrinya, Sri Rahayu, melayani pembeli. Saat Slamet sedang memasak, ia merasakan ada hawa yang sangat panas. Dinding di warungnya mula-mula hangat dan sangat panas, begitu melihat ke belakang warung, api sudah besar. Melihat api dibelakang Slamet sudah sangat besar, ia memintanya untuk segera keluar dari dalam dapur. Begitu juga dengan para pembeli yang sedang makan pun ikut lari tunggang- langgang. Mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang, sebab kobaran api sudah sangat besar. Apalagi dinding warung yang mereka tempati dari papan dan kayu. "Saya lagi memasak di dapur, rasanya dinding ini kok hangat lalu lama-lama menjadi panas. Waktu itu saya masih cuek saja, namun pas melihat ke dinding belakang, ternyata api sudah besar, lalu saya pun lari keluar warung. Api bukan berasal dari warung kami," ujar Slamet Riyadi. Sedangkan menurut penuturan korban kebakaran lainnya, Afridayanti, menjelaskan saat kejadian, ia sedang berada di depan rumah untuk bersantai. Ia memiliki firasat tidak nyaman. Ketika ingin tidur di kamar pribadinya, ia merasa tidak jenak. Lalu ia segera keluar rumah untuk menghirup udara segar. Di luar rumah pun ia merasa tidak nyaman, lalu ia kembali naik ke lantai atas untuk melihat keadaan kamarnya. Ia melakukannya selama empat kali, namun ketika ingin melihatnya lagi, ia sudah ditahan oleh warga. Sebab api sedang membakar ruangannya. "Saya mau tidur tapi tidak jenak. Lalu saya turun ke bawah, habis itu naik lagi lihat kamar saya. Terus turun lagi, naik lagi, turun lagi. Pas mau naik ke atas, saya ditahan warga agar jangan naik, karena sedang terjadi kebakaran," ujar Afridayanti dengan lengan tangan kanan yang sedang dibalut alat tensi darah dan menunjukkan angka 154/95. Menurutnya, musibah yang menimpanya ini menghanguskan uang tunai senilai Rp 12 juta, dokumen surat-surat berharga dan beberapa barang bernilai lainnya. "Uang Rp 12 Juta, paspor, surat berharga dan barang lainnya habis terbakar," jelas istri Bahrijon yang memiliki tiga orang anak itu. Setengah jam dari awal kebakaran, mobil pemadam segera datang ke lokasi. Begitu juga dengan jajaran Polsek Persiapan Bengkong segera berbaur dengan warga untuk saling bahu membahu memadamkan api. Sehingga api berhasil dilumpuhkan oleh tim pemadam kebakaran yang dibantu warga sekitar pada pukul 11.00 WIB. Kapolsek Persiapan Bengkong, AKP Catur Kusmedi menjelaskan kebakaran ini menghanguskan enam rumah dengan kategori rusak berat dan dua rumah mengalami kerusakan ringan. Menurutnya, kejadian ini masih dilakukan penyelidikan sehingga masyarakat jangan berandai-andai dan menduga-duga terlebih dulu. "Kami sudah data rumah yang terbakar, kita juga sudah pasang garis polisi disekitar lokasi. Kami minta masyarakat jangan menduga-duga, kita akan selidiki dulu penyebab- penyebabnya," ujar AKP Catur Kusmedi. Dari data yang berhasil dihimpun, rumah-rumah yang rusak dan hangus ini milik beberapa warga. Di antaranya rumah Mansyur Blok A 15, Zalimar Blok A 16, Rusli Blok A 17, Congi Blok A 18, Abdulrahman Blok A 19, Hutagalung Blok A 14, Liza Nasrul Blok C 54, Bahrijon Blok A 56. Camat Bengkong yang hadir dilokasi, Umiyati, menyebutkan korban Yurnani (Blok A 16 rumahnya hangus), Jamaluddin (Blok A 16, penghuni rumah kos, rumah ludes), Marsandi (rumah sewa untuk warung makan, hancur lebur), Riswanto (rumah hangus namun tidak ditempati), Abdulrahman (Blok A 19, rumah rusak ringan), Riawaty (Blok A 19, penghuni rumah kos, rumah rusak), Bahrijon (rumah rusak parah pada bagian atapnya). "Ada 29 jiwa (tujuh jiwa tidak tinggal di TKP), kepala keluarga (KK) ada 7 orang, laki-laki berjumlah 9 orang dan perempuan 20 orang. Sedangkan anak usia 0-5 tahun tidak ada, 6-16 tahun sejumlah empat anak, dan lainnya 25 orang dewasa," tukasnya. (tribun batam/tia)
|
| Baca Artikel Lainnya: |
|---|
|
| Powered By relatedArticle |












"Kebakaran, kebakaran, tolong, tolong, ada api, ada api." Teriak Marsandi pemilik warung makan yang beralamat di Blok A No 17 RT 05 RW 04 Bengkong Baru Batam, Senin (7/3) pukul 9.40 WIB. Tetangga yang berada disekitar rumah langsung berhamburan keluar. Mereka segera mengambil air dan berusaha menyiram apinya.




